Kapolda dan Gubernur Riau Jadi Saksi di Prosesi Anugerah Adat kepada Kapolri

Sabtu, 12 Juli 2025 - 23:29 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pekanbaru – Prosesi pemberian Anugerah Adat Ingatan Budi kepada Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dari Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) berlangsung khidmat. Didampingi Kapolda Riau Irjen Herry Heryawan dan Gubernur Riau Abdul Wahid, Kapolri mendengarkan elu-eluan masyarakat adat yang memenuhi acara tersebut.

Pemberian Anugerah Adat Ingatan Budi digelar di Balairung Tenas Effendy Balai Adat LAMR, Sabtu (12/7/2025). Jenderal Sigit, Irjen Herry Heryawan, dan Abdul Wahid duduk di tempat prosesi adat (di depan peterakna).

Prosesi berlangsung khidmat diawali dengan pembacaan doa. Selanjutnya, Kapolri mendengarkan syair yang berisi tentang kinerja Kapolri Jenderal Sigit yang dibacakan oleh Puan Siska Armizka.

Selanjutnya, prosesi dilanjutkan dengan mendengarkan elu-eluan oleh Ketua Umum Dewan Pengurus Harian (DPH) LAMR Datuk Seri H Taufik Ikram Jamil. Taufik Ikram menyampaikan makna dalam pemberian Anugerah Adat Ingatan Budi terhadap Kapolri ini.

“Bahwa budi adalah serangkaian kemampuan kognitif, yang memungkinkan kesadaran, persepsi, pertimbangan, dan ingatan manusia dan organis lain yang menjadi penggerak bagi peradaban,” kata Taufik Ikram.

Dalam alam Melayu, budi mengandung tingkah laku yang halus, toleransi, penghargaan, baik, terouji, empati, bahkan ketika syair bicara ia mewujud bersama-sama.

“Jadi dalam budaya Melayu Riau, budi menempati suatu wilayah yang istimewa,” katanya.

Kata budi itu sendiri memiliki makna mendalam sebagai sosok yang melewati jangkauan tempat dan waktu. Kata ini mengiringi sesuatu yang nyata dalma kehidupan sehari-hari di mana saja, tetapi kekal mewujud sepanjang waktu.

“Kata budi, kata budi termasuk kata asli Melayu yang tidak pernah diubahsuaikan ke dalam bahasa lain, sebagaimana yang banyak ditemukan dalam kosakata Melayu,” katanya.

Karena budi bukan hanya tanda, tetapi juga suatu konsep.

“Itulah makanya muncul pisang emas bawa berlayar, simpan sebiji di atas peti, hutang emas dapat dibayar, utang budi dibawa mati,” ungkapnya.

Kata budi juga menjadi suatu yang istimewa sehingga diungkapkan dalam sejumlah peribahasa, seperti “Mau melihat orang berbangsa lihat kepada budi bahasa” atau istilah “yang berdiri dalam budi” untuk menunjukkan keistimewaan seseorang.(Rls)

Berita Terkait

525 Rakit PETI Dimusnahkan, 17 Tersangka Diciduk Polda Riau di Kuansing
Patroli Bersama Dubalang, Kapolres Kuansing Pastikan Aliran Sungai Batang Kuantan dan Singingi Bersih dari Aktivitas PETI
Operasi PETI Kuantan Merah Putih Presisi 2026, 525 Rakit Dimusnahkan di Kuantan Singingi
Ekspedisi Merah Putih Presisi Jangkau Kuala Selat, 500 Hektare Mangrove Disiapkan
Titip Harapan di Sekolah Rakyat, 392 Anak Riau Siap Menatap Masa Depan
Merah Putih Berkibar di Hati Masyarakat, Sat Intelkam Polres Kuansing Bagikan Bendera Jelang HUT RI ke-81
Unggul di Enam Kategori, Polda Riau Juara Umum Ketahanan Pangan Polri
Jalan Benai Jadi Sorotan, Plt Bupati Kuansing Kejar Realisasi MoU ke Jakarta
Berita ini 14 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 18 Agustus 2026 - 15:35 WIB

525 Rakit PETI Dimusnahkan, 17 Tersangka Diciduk Polda Riau di Kuansing

Minggu, 16 Agustus 2026 - 06:21 WIB

Patroli Bersama Dubalang, Kapolres Kuansing Pastikan Aliran Sungai Batang Kuantan dan Singingi Bersih dari Aktivitas PETI

Minggu, 16 Agustus 2026 - 06:09 WIB

Operasi PETI Kuantan Merah Putih Presisi 2026, 525 Rakit Dimusnahkan di Kuantan Singingi

Minggu, 16 Agustus 2026 - 06:03 WIB

Ekspedisi Merah Putih Presisi Jangkau Kuala Selat, 500 Hektare Mangrove Disiapkan

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 17:57 WIB

Titip Harapan di Sekolah Rakyat, 392 Anak Riau Siap Menatap Masa Depan

Berita Terbaru