Konflik Lahan Muara Langsat Berdarah-Darah: Siti Aisyah Sorot Keadilan yang Belum Tuntas

Rabu, 28 Oktober 2026 - 06:46 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

KUANTAN SINGINGI – Berjuang demi kebenaran. Luka lama masyarakat Muara Langsat, Kecamatan Sentajo Raya, Kabupaten Kuantan Singingi, kembali terbuka. Dalam resesnya di Teluk Kuantan pada Selasa (28/10/2026), Anggota DPR RI Komisi III, Siti Aisyah, mendengar langsung jeritan hati warga yang selama ini terjepit dalam konflik lahan yang tak kunjung usai.

Siti Aisyah, yang mewakili PDI-Perjuangan Dapil II Riau, menegaskan bahwa kasus ini akan menjadi salah satu fokus perhatiannya di Kuansing. Baginya, konflik yang telah memakan korban dan “berdarah-darah” ini tidak boleh dibiarkan begitu saja.

“Konflik masyarakat di Muara Langsat yang berdarah-darah dan memakan korban – apakah tersangka hanya satu orang? Dan apakah otak intelektual di balik semua ini sudah diperiksa? Yang paling penting: apakah masyarakat sudah benar-benar mendapatkan keadilan?” tegas Siti Aisyah di hadapan awak media.

Perjuangan Kelompok Tani 80 Sumber Berkah dimulai sejak 2024. Lahan seluas 55,2 hektare yang statusnya jelas milik masyarakat, hingga kini belum bisa dinikmati oleh para petani. Justru sebaliknya – pihak Barito Erson Napitupulu yang memanen hasilnya, bahkan diduga menggunakan tenaga kerja di kebun tersebut sebagai “tameng” untuk mempertahankan penguasaan yang dianggap tidak sah.

Dalam pertemuan tersebut, Sugiono hadir didampingi oleh penasihat hukumnya, Ferindoni, S.H., M.H. dan Ikhsan, S.H., M.H. Kehadiran mereka menegaskan bahwa perjuangan masyarakat bukan sekadar tuntutan di jalan, melainkan upaya menegakkan kebenaran melalui jalur hukum yang benar.

Sugiono, Ketua Kelompok Tani 80 Sumber Berkah, menyampaikan haru sekaligus lelahnya. Berjuang sendirian selama bertahun-tahun, akhirnya suaranya terdengar juga ke tingkat pusat.

“Kami berjuang sejak 2024, hingga hari ini lahan itu belum bisa kami kuasai. Sungguh terharu hati kami, akhirnya kami bisa menyampaikan langsung aspirasi ini kepada Ibu Anggota DPR RI,” ucap Sugiono dengan suara bergetar.

Puluhan bulan telah berlalu, namun keadilan atas 55,2 hektare tanah yang menjadi tumpuan hidup puluhan keluarga itu masih terasa jauh di awan. Kini mata masyarakat tertuju pada langkah nyata yang akan diambil – bukan sekadar mencari siapa yang bersalah, tetapi memastikan kebenaran benar-benar menang.

Berita Terkait

Putih Bersinar di Lapangan Limuno, H. Muklisin Pimpin Upacara Hari Santri Nasional 2026
Kuansing Madani Tak Cuma Slogan – H. Juprizal Ajak Santri Jadi Garda Terdepan
Kapolres Kuansing Pimpin Apel Operasi Patuh Lancang Kuning 2026
Polres Kuansing Ungkap Dugaan Penyalahgunaan BBM Bersubsidi, 2.400 Liter Pertalite Disita
Polsek Cerenti Tertibkan 8 Rakit PETI di Sungai Batang Kuantan, Kecamatan Inuman
Dugaan PETI di Muara Tambangan Pasaman, Air Sungai Dikeluhkan Keruh, Publik Menanti Respons Aparat dan Pemerintah
PETI Excavator Diduga Marak di Muara Tambangan Pasaman, Nama Mahyudin Batu Bara Mencuat – Aparat Ditantang Bertindak!
Sambut Hari Jadi ke-75 Humas Polri, Polda Riau Gelar Donor Darah sebagai Wujud Nyata Kepedulian kepada Masyarakat
Berita ini 1 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 28 Oktober 2026 - 06:46 WIB

Konflik Lahan Muara Langsat Berdarah-Darah: Siti Aisyah Sorot Keadilan yang Belum Tuntas

Selasa, 27 Oktober 2026 - 03:15 WIB

Putih Bersinar di Lapangan Limuno, H. Muklisin Pimpin Upacara Hari Santri Nasional 2026

Selasa, 27 Oktober 2026 - 03:00 WIB

Kuansing Madani Tak Cuma Slogan – H. Juprizal Ajak Santri Jadi Garda Terdepan

Senin, 26 Oktober 2026 - 06:03 WIB

Kapolres Kuansing Pimpin Apel Operasi Patuh Lancang Kuning 2026

Kamis, 22 Oktober 2026 - 06:56 WIB

Polres Kuansing Ungkap Dugaan Penyalahgunaan BBM Bersubsidi, 2.400 Liter Pertalite Disita

Berita Terbaru