PETI Menggila di Pasaman Barat, Alam Rusak dan Aliran Sungai Keruh

Selasa, 14 April 2026 - 12:08 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pasaman Barat, 14 April 2026 – Di balik hijaunya perbukitan Kecamatan Gunung Tuleh, Kenagarian Rabi Jonggor, tersimpan kegelisahan yang kian hari semakin terasa berat. Aktivitas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) dilaporkan terus berlangsung, seolah kebal terhadap hukum dan tak tersentuh oleh berbagai peringatan yang telah disuarakan.

Bagi masyarakat setempat, ini bukan lagi sekadar pelanggaran aturan. Ini adalah kenyataan pahit yang mereka hadapi setiap hari. Alam yang dulu menjadi sumber kehidupan, kini perlahan berubah menjadi sumber kekhawatiran.

Keresahan warga kembali mencuat setelah unggahan di media sosial oleh akun Facebook Irma Anggina Irma Anggina. Unggahan tersebut menjadi cerminan rasa lelah, kecewa, dan harapan masyarakat yang perlahan mulai memudar.

Menurut warga, laporan demi laporan telah disampaikan kepada pihak berwenang. Namun hingga kini, respons yang diharapkan belum juga terlihat. Diamnya penanganan justru menimbulkan tanda tanya besar di tengah masyarakat.

“Kami sudah melaporkan beberapa kali, tapi belum ada tindakan yang terlihat,” tulis seorang warga. Pernyataan itu menggambarkan kekecewaan mendalam – sebuah suara yang terus disampaikan, namun tak kunjung mendapat jawaban.

Sementara itu, dampak aktivitas PETI semakin nyata. Air sungai yang dulunya jernih kini berubah keruh, membawa lumpur dan limbah. Tanah yang dulu subur perlahan kehilangan daya dukungnya. Lebih dari itu, aktivitas ini juga dinilai berpotensi membahayakan keselamatan masyarakat sekitar.

Sorotan pun mengarah kepada aparat penegak hukum (APH) dan para pemangku kebijakan. Warga mulai mempertanyakan, mengapa aktivitas yang jelas melanggar hukum ini masih terus berlangsung tanpa tindakan tegas.

Di tengah situasi ini, masyarakat tidak lagi sekadar berharap. Mereka menuntut kejelasan dan langkah nyata. Bagi mereka, yang dibutuhkan bukan sekadar janji, tetapi tindakan yang mampu menghentikan kerusakan yang terus terjadi.

Harapan itu masih ada, meski mulai memudar. Warga hanya ingin didengar, dilindungi, dan diyakinkan bahwa hukum benar-benar hadir di tengah mereka.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak terkait mengenai tindak lanjut atas laporan masyarakat tersebut.(TIM)

Berita Terkait

Motor Cross Wan Hok Pasir Emas Siap Digelar, Perebutkan Uang Pembinaan Rp75 Juta
Polres Kuansing Ungkap Karhutla di Hutan Lindung Bukit Betabuh, Dua Tersangka Diamankan
Jumat Curhat, Polsek Jajaran Polres Kuansing Dekatkan Polisi dengan Masyarakat
Polres Kuansing, Lapas dan BNNK Bersinergi Cek Urine Napi dan Petugas Lapas Teluk Kuantan
Desi Guswita Luruskan Pemberitaan: Saya Belum Diperiksa, Surat yang Diterima Adalah Undangan Wawancara
Desi Guswita Pertanyakan Transparansi DPRD Kuansing: Kritik Bukan Kejahatan
Alat berat dan box penyaring emas beroperasi di belakang kampung Silagawen Menek Pasaman Barat, warga resah desak Kapolda Sumbar turun langsung
Polsek Singingi Tertibkan Dua Rakit PETI di Muara Lembu
Berita ini 24 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 18 September 2026 - 11:10 WIB

Motor Cross Wan Hok Pasir Emas Siap Digelar, Perebutkan Uang Pembinaan Rp75 Juta

Jumat, 18 September 2026 - 06:33 WIB

Polres Kuansing Ungkap Karhutla di Hutan Lindung Bukit Betabuh, Dua Tersangka Diamankan

Jumat, 18 September 2026 - 06:29 WIB

Jumat Curhat, Polsek Jajaran Polres Kuansing Dekatkan Polisi dengan Masyarakat

Jumat, 18 September 2026 - 06:25 WIB

Polres Kuansing, Lapas dan BNNK Bersinergi Cek Urine Napi dan Petugas Lapas Teluk Kuantan

Rabu, 16 September 2026 - 12:58 WIB

Desi Guswita Luruskan Pemberitaan: Saya Belum Diperiksa, Surat yang Diterima Adalah Undangan Wawancara

Berita Terbaru